Minggu, 26 Juli 2015
Rumah
Aku ingin punya rumah, Tuhan
yang dalam pelukannya adalah tempatku selalu pulang
bukan untuk sekedar singgah namun untuk selamanya
aku ingin punya rumah, Tuhan
yang pada senyumannya segala gundahku akan hilang
yang pada teduh matanya seolah pundakku ditepuk dan bilang
"semuanya akan baik - baik saja"
Yang tidak perlu bertanya "kamu kenapa?"
Melainkan cukup sekedar duduk disebelah kananku dan diam, mendengarkan apa - apa yang tidak terkatakan oleh lisan.
Aku ingin punya rumah, Tuhan
yang tiap kali aku pergi, membuatku merasa ingin cepat pulang dan ia akan selalu menungguku datang.
Menyambutku dengan pelukan, senyuman, juga tatapan mata yang meneduhkan.
Keinginan ini tidak ketinggian, kan?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Oktober 2020
Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...
-
dear ILONA ESTHERINA CHRISTINE PIRI, di kosannya yang hanya berjarak empat rumah dari kosan gue. pasti lo bertanya - tanya kenapa gue...
-
Kamu tau, memperjuangkan sebuah gelar di akhir perkuliahan ternyata lebih susah dibanding memperjuangkan hatinya Tan, dulu. Susah. Dan ribe...
-
Renjana, Aku terlambat. Barangkali, mentari di dadaku lupa ingatan, buru - buru kuseduh milo dengan secangkir gerimis tanpa perasa. Hamb...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar