Hallo kamu! Pria yang
digilai perempuan itu. Ralat! Bukan hanya digilai, tapi amat sangat digilai.
Dan kamu boleh menyebutnya perempuan itu gila.
Izinkan aku bercerita
sedikit tentangnya padamu.
Perempuan itu, apa
kau mengenalinya?
Jangan tanyakan padaku:
apakah ia mengenalimu atau tidak?
Ia kenal betul lebih
dari kau kenal dia.
Aku saksinya,
sungguh!
Ia memujamu, tak
lelah ia terus menulis tentangmu.
Dalam tiap derai
tangis ataupun tawa bahagianya, kamu menjadi alasannya paling utama.
Perempuan itu, harus
ku akui pula ia pantang menyerah.
Sekalipun kau bantai
ia dengan sikap dinginmu,
ataupun
tindakan lain yang
menyakiti hatinya.
Ia tetap menyayangmu
Ia tetap menyayangmu
perempuan itu yang
akan mengkhawatirkan keadaanmu
dan
dialah yang mengkhawatirkanmu
pertama kali saat kau bermasalah dengan beberapa orang dalam sebuah kegiatan
yang mengharuskan
kalian ber-akting.
Ia menyayangimu,
sungguh!
Sekalipun kamu tidak.
Ia bahkan bungkus
kenangan kalian rapat-rapat.
Walaupun hanya
sedikit yang kau beri untuknya.
Hei pria yang menjadi
cinta bagi perempuan itu!
Tak bisakah kau buka
hatimu untuknya?
Sedikit saja
biarkan ia menempati
celahnya
dan
ku pastikan ia akan
sangat bahagia.
Ia menyayangmu.
Aku tidak berbohong.
Cobalah sedikit
berbalik ke arahnya.
Lihat ke dalam
hatinya
dan
kan kau dapati namamu
disana.
Aku
bersungguh-sungguh!
Ia teramat
membanggakanmu di depan teman-temannya,
walau kau tak
melakukan hal serupa.
Dan hei! Lihatlah!
Lihat pria hebat!
Ia bersorak
kegirangan.
Perempuan itu bahagia
setengah mati kau
balas pesan singkatnya yang dikirimnya untukmu.
Kau balas
dengan kata yang
menurutku biasa saja,
tapi luar biasa
untuknya.
"ini
siapa?"
dan ia kebingungan.
Mungkin
bertanya-tanya
bagaimana ia harus menjawab pertanyaanmu.
Ia begitu
menyayangimu.
Coba sedikit pahami
perasaannya.
Bagaimana ia dengan
tulus sayangimu tanpa pamrih.
Terus menyapamu
mendoakanmu selalu.
Rasakan perasaannya
yang teramat dalam untukmu
sebelum
semua terlambat
dan
ia putuskan tuk
berhenti
lalu
menghilang dari
kehidupanmu.
Disaat itu, kau akan
setengah mati merinduinya, perempuan itu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar