Selasa, 04 Februari 2014

Surat Untuk Tuan Pemilik Tulang Rusuk

Teruntuk.. siapapun kamu yang entah apa aku menyebutnya.. mungkin Tuan Pemilik Tulang Rusuk? Ya sementara kusebut saja begitu.

Hai Tuan! Dimana kamu? Kapan waktunya tiba kamu akan mendatangiku? Siapa kamu? Bagaimana cara kita bertemu nanti?
Terlalu to the point ya, pertanyaanku?
Ha – ha – ha. Lupakan. Abaikan. Mari membahas yang lain.

Tuan, biar ku ceritakan keseharianku saja. Saat aku menulis surat ini, aku sedang berada di sebuah café yang baru dua hari belakangan ini ku jadikan tempatku mencari inspirasi. Aku tidak sendiri, tetapi berdua. Tidak, jangan salah sangka, Tuan. bukan berdua bersama seorang kekasih, tetapi seorang sahabat. Seharusnya berlima, tapi yang lain sedang sibuk dengan urusannya.

Café ini di desain manis sekali, tepat di tepi pantai dengan lampu – lampu yang remang membuatnya menjadi romantis. Cukup banyak pengunjungnya, aku berharap diantara sekian banyak yang datang kamu satu diantaranya.
Oh iya, langit malam ini cerah sekali, bintangnya banyak, bulannya sabit, bagaimana dengan langit malam di tempatmu, Tuan?

Oh hai, hampir lupa. Saat menulis surat ini juga, aku adalah seorang anak perempuan 19 belas tahun yang masih sangat… labil. Haruskah aku bercerita sedikit tentang sifatku kepadamu, tentang apa yang aku suka dan tidak kusukai? Agar di suatu hari yang entah kapan saat kamu bertemu denganku kamu tidak perlu bersusah payah mempelajariku. Bagaimana, setuju?

Aku suka sekali dengan dongeng Peterpan, kamu tentu tahu kan Tuan seperti apa ceritanya? Peter adalah salah seorang dari sekian banyak anak yang tinggal di Neverland, aku tidak begitu tahu bagaimana bisa mereka sampai disana, yang aku tahu, dia; Peter hanya tidak ingin menjadi orang dewasa, ia hanya ingin terus menjadi anak kecil. Katanya, di Neverland kita tidak akan tumbuh mejadi orang besar, entah kenapa aku suka dan selalu berandai – andai agar Neverland itu benar – benar ada agar aku bisa hidup selamanya disana, menjadi anak – anak saja. Tapi, bukankah lebih baik jangan? di Neverland aku tentu tidak akan bisa tumbuh besar dan bertemu denganmu kan, Tuan?

Aku suka aroma pethrichor. Itu loh aroma hujan, maksudku wangi aroma tanah yang bercampur dengan air hujan. Tuan, kamu tentu pernah menghirup aromanya, sengaja ataupun tidak. Aromanya khas, aromanya selalu berhasil membawaku mengenang kembali masa - masa kecilku dulu. Sebab itulah aku juga menyukai hujan. Aroma pethrichor dan hujan adalah satu paket lengkap yang membuatku merasa seperti menghirup aroma kehidupan. Hehehe. Saat kita telah dipertemukan nanti, ayo kawani aku menghirup aroma hujan. berdua saja.

Bagaimana denganmu, Tuan? Apa yang kamu sukai? Ah! Aku lupa. Siapa kamu saja aku tidak tahu, apalagi hal – hal yang kamu sukai, iya kan?

Tuan, aku begitu mencintai permen karet. Aku suka yang rasa mint, yang rasa jeruk juga aku suka. Apa saja rasanya asal itu permen karet aku pasti suka. Rasanya seperti hampir gila jika sehari saja tidak mengunyah permen karet. Hiperbola ya? Ha-ha-ha tapi begitulah adanya. Aku suka membuat balon dari permen karet, aku bisa meniupnya sampai besar. Besar sekali. Nanti pasti akan ku tunjukkan padamu saat bertemu. Akan ku bagi juga permen - permen karetku untukmu.

Aku suka menulis diary. Untuk sementara ini, isi diaryku bercerita tentang siapa saja; anak laki – laki yang pernah singgah atau hanya mampir sebentar di hidupku. Kamu jangan cemburu ya. Kita memang harus singgah di beberapa hati untuk kemudian dipertemukan suatu hari, Tuan. Jika saat ini kamu sedang dengan anak perempuan yang lain, nikmatilah perasaan itu. Sementara saja. Aku tidak marah karena kelak nanti kamu akan diperuntukkan untukku. Iya kan, Tuan? Saat kita bertemu nanti, aku janji akan selalu menjadikanmu puisi dalam tulisanku, aku pasti menjadikanmu tokoh utama dalam semua cerita yang ku buat.

Kau tau White Shoes And The Couples Company? Aku suka band Indie itu. Aku suka semua lagunya. Aku suka gendre musiknya, aku suka suara Sari vokalisnya, aku paling suka Ale gitarisnya hehehe. Lagunya selalu ku putar berulang – ulang jika sedang suntuk, atau penat. Seperti dopping yang selalu bisa menyemangatiku. aku suka mendengarkan Kisah Dari Selatan Jakarta sambil nutup mata rapat – rapat.

Aku juga suka coklat, aku suka ice cream spongebob.

Aku suka dibilang aneh.

Aku suka duduk di tepi pantai sekedar mengantar matahari pulang, atau sekedar bernyanyi bersama ombak, atau menemani yang patah hati, atau bertukar kisah paling pilu bersama sahabat.

Tuan Pemilik Tulang Rusuk, kapan kita akan berjumpa?
Aku sedang menunggu
Dimana kamu saat ini? Ada di dekatku, atau jauh, atau..
Dimanapun kamu, kita pasti akan bertemu. Disuatu waktu, hanya kamu dan aku.
Di waktu yang tepat.

Bagaimanapun wujudmu dan bagaimanapun wujudku. Semoga kelak saat bertemu, kamu senang menjadi jodohku ha-ha-ha

Tuan, di tempatku sudah semakin larut. Kau tahu, butuh lima jam untukku menulis surat untukmu yang entah akan sampai atau tidak, aku perlu untuk menulis yang semoga sampai pada hatimu lewat apa saja. Semoga terasa walau tak terbaca.

Kusudahi suratku, Tuan.

Malam terlalu malam. Aku butuh untuk beristirahat yang tenang.

Tidurlah yang nyenyak.

Sampai bertemu di suatu saat nanti, Tuan. Senang menulis untukmu.

-f

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...