Senin, 26 Januari 2015

Cerpen: Teru - Teru Bozu



          Boneka dengan kain putih berkepala bulat yang lehernya terikat dengan senyuman mengembang diwajahnya. Ah! Apa bagusnya boneka aneh seperti itu? Lebih mirip boneka santet kalau boleh dibilang. Bian bilang itu bernama teru – teru bozu. Dipercaya untuk mengusir hujan bagi masyarakat jepang. Kau tinggal menggantungnya pada tiap jendela yang berada di kamarmu, atau rumahmu, lalu hujan akan pergi.

          Hai Bian! Hidup di jaman apa kamu? Kenapa begitu mempercayai sesuatu yang sangat konyol seperti itu? Tahayul. Kamu tentu saja bukan orang jepang, dan tidak mungkin juga hujan dapat di usir dengan cara kamu menggantung puluhan boneka santet, ya.. teru – teru bozu maksudku, di depan jendela kamarmu setiap kali mendung menggantung kan? Kamu selalu melakukannya, tapi lihat apa hasilnya? Nihil. Hujan tetap turun, Meski tidak disetiap hari. Bahkan halaman depan rumahmu nyaris banjir. Dan apa yang kamu dapat dari teru – teru bozumu itu? Hanya warna spidol hitam yang luntur pada tiap – tiap teru – teru bozumu itu, bukan? Gambar senyum di kepala si teru – teru itu bahkan memudar. Tidak lagi membentuk seuntai senyuman, Lebih terlihat seperti raut wajah yang kusut. Ah, entahlah bukan urusanku.

“ Kamu tidak akan mengerti hujan seperti apa yang ingin aku usir.. “ Itu yang selalu kamu utarakan ketika aku bertanya apa alasanmu melakukan hal aneh itu. Kamu terlihat bodoh, bian! Kenapa kamu memilih untuk mengusir hujan? Hujan itu anugerah, kamu tau kan? Itu kata guru SD kita dulu. Hujan itu berkah. Bahkan di agama kita ada doa yang wajib dilafaldkan ketika turun hujan. Lantas kenapa kamu menolak habis – habisan keadaannya?

“ Kamu ingin mengusir hujan yang bagaimana? Siklonal? Orografis? Hujan frontal? Hujan muson? “ Tanyaku, tapi kamu hanya diam memandang lurus kedepan teru – teru bozumu itu. Sembari mengganti beberapa yang rusak dengan boneka yang baru kau buat. Menggantungnya tepat didepan jendela kamarmu. Lagi.

“ Kamu tidak mengerti, Nis. Dan semua jenis – jenis hujan yang kau katakan tadi, sungguh aku baru pertama kali mendengarnya “ Suara nge-bassmu menggema didalam kamarmu yang hanya ada kita berdua didalamnya.

          Hahaha, Tidak tahukah kamu bian? Aku juga baru tahu ada jenis – jenis hujan seperti itu. Siklonal, orografis, dan apalah itu. Aku pikir semua hujan sama saja. Aku baru tau karena membaca sebuah artikel tentang hujan di perpustakaan kampus kemarin. Aku bahkan tidak terlalu mengingat hujan jenis siklonal itu terjadi karena apa. Cuma hujan jenis muson yang aku tahu apa penyebabnya, hujan itu terjadi karena angin musiman, karena ada pergerakan semu tahunan matahari antara garis balik utara dan selatan. Dan tidak mungkin jenis hujan itu yang ingin kau usir, kan? Sebab ini masih bulan juli, tidak ada hujan muson dibulan juli. Itu yang aku tahu.
***
          Kamu memasangnya lagi, dengan raut wajahmu yang begitu – begitu lagi. Bian, Kenapa tak kau biarkan hujan itu turun saja? Toh sesudah hujan akan muncul pelangi. Waktu kecil kamu sangat suka pelangi, setiap sehabis hujan dan tujuh warna bidadari itu muncul kamu pasti akan sangat girang sekali, berlari dari rumahmu menuju rumahku hanya ingin menunjukkan si pelangi nan cantik itu. Tapi sekarang kamu bahkan tidak mempersilahkan ia untuk menyapamu barang sebentar. Sebentar, sebentar saja, bian.

          Aku mencoba berbagai cara untuk membuatmu melupakan aktivitas anehmu itu, membuat banyak sekali teru – teru bozu untuk kau gantung, ya, dimana lagi kalau bukan didepan jendela kamarmu. Waktu bermainmu denganku jadi banyak berkurang. Sudah berapa lama kita berteman dan aku merasa aneh dengan kebiasaan barumu ini. Selalu ingin pulang kuliah lebih awal dan tidak ada lagi waktu untuk sekedar hang-out melepas penat dari kegiatan kuliah yang membosankan. Aku kehilangan kamu, bian. Ragamu masih didalam ruangan ini, jiwamu? Kemana jiwamu? Sedang sibuk membuat teru – teru bozu jugakah?

***

          Kamu tersenyum, Bian. Ya, senyum. Ini bukan senyum yang biasa kulihat di kepala boneka anehmu itu. Ini senyummu. Senyum temanku, sahabatku Bian. Sudah hampir 3 minggu kamu murung dan mengurusi boneka – boneka pelet yang bergelantungan itu dan membuatku hampir lupa bagaimana senyummu. Kamu bilang kamu sudah tidak perlu teru – teru bozu lagi, Hujanmu telah pergi. Dan, Pelangi. Kamu menyebutnya begitu. Karena dia muncul sesudah hujanmu. Memayungimu saat kamu basah kuyup oleh hujan yang nakal itu. Mengeringkanmu. Dan banyak lagi kata - kata yang kamu lontarkan, yang tidak ku mengerti.

“ Aku selalu percaya akan muncul pelangi setelah hujan, Nis.” Katamu. Bian, aku sungguh tidak mengerti. Perempuan itukah yang kamu sebut pelangi? Aku pikir pelangi itu refleksi cahaya matahari yang dipantulkan awan, dari definisi si Aristoteles. Tapi ternyata pelangimu beda, pelangimu perempuan tinggi bertubuh langsing dengan kulit putih yang rambutnya ikal sepinggang.

          Bah! Kemana teru – teru bozu di depan jendela kamarmu? Aku melihat sekeliling kamarmu, tidak ada lagi. Teru – teru bozumu, pun kamu tak ada dikamarmu sendiri. Ibumu bilang, kamu baru saja keluar dengan perempuan cantik definisi pelangimu itu. Mataku menangkap keranjang sampah kecil di sudut kamarmu. Disitu ada banyak sekali boneka san.. ah, teru – teru bozu maksudku. Kamu sudah tidak perlu mereka untuk mengusir hujan lagi kah, Bian?

          3 minggu tidak mendengar tawamu, sekali melihat senyummu lalu hilang dan tak ada. Kita tidak lagi seperti dulu bian. Kemana kamu, jarang sekali bertemu di kampus. Kemana kamu, di rumah pun jarang. Setiap aku ke rumahmu, ibumu selalu berkata kamu sedang keluar dengan seorang anak perempuan. Kamu tak lagi sama, Bian. Sungguh, aku lebih memilih melihatmu duduk merangkai teru – teru bozumu itu dengan wajah murung daripada harus kehilanganmu disetiap harinya yang entah bermuara kemana bersama pelangimu itu. Ada kepingan yang menghilang. Kamu, Bian. Temanku – sahabatku – kepingan kecil puzzle kehidupanku. Sibuk mengurus pelangimu.

          Aku merasa ada rintik disini. Aku melihat keluar jendela kamarmu, tidak sedang hujan. Tapi aku seperti sedang basah kuyup. Fatamorgana. Aku seperti kehujanan. Didalam sini. Kakiku tergerak berjalan ke arah sudut kamarmu, ke arah keranjang sampah yang didalamnya terdapat banyak boneka.. teru – teru bozu. Ku raih banyak, tidak satu – satu. Aku memasukannya kedalam tas, lalu bergegas keluar dari kamarmu. Bian, aku mungkin memerlukan ini sekarang. Aku butuh mengusir hujan ini. hujan jenis.. aku tidak mengerti. Yang jelas ini bukan hujan jenis Siklonal, Orografis, frontal, atau jenis hujan Muson seperti yang aku katakan padamu dulu, karena ini masih di akhir bulan juli. Kamu mengajarkanku satu jenis hujan baru, jenis hujan yang belum pernah sebelumnya ku tahu – ku baca.

          Dan, kini perlahan aku mulai mengerti jenis hujan apa yang dulu kamu maksudkan. aku curi teru – teru bozumu ini. Mungkin aku perlu untuk menggantungnya didepan jendela kamarku, sepertimu, kemarin dulu, Bian..



(((Nb: kemarin iseng - iseng ngirim cerpen ke majalah, eh alhamdulillah diterbitkan heheu. lumayan nambah - nambah duit jajan^^)))

1 komentar:

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...