Boneka dengan kain
putih berkepala bulat yang lehernya terikat dengan senyuman mengembang
diwajahnya. Ah! Apa bagusnya boneka aneh seperti itu? Lebih mirip boneka santet
kalau boleh dibilang. Bian bilang itu bernama teru – teru bozu. Dipercaya untuk
mengusir hujan bagi masyarakat jepang. Kau tinggal menggantungnya pada tiap
jendela yang berada di kamarmu, atau rumahmu, lalu hujan akan pergi.
Hai Bian! Hidup di
jaman apa kamu? Kenapa begitu mempercayai sesuatu yang sangat konyol seperti
itu? Tahayul. Kamu tentu saja bukan orang jepang, dan tidak mungkin juga hujan
dapat di usir dengan cara kamu menggantung puluhan boneka santet, ya.. teru –
teru bozu maksudku, di depan jendela kamarmu setiap kali mendung menggantung
kan? Kamu selalu melakukannya, tapi lihat apa hasilnya? Nihil. Hujan tetap
turun, Meski tidak disetiap hari. Bahkan halaman depan rumahmu nyaris banjir.
Dan apa yang kamu dapat dari teru – teru bozumu itu? Hanya warna spidol hitam
yang luntur pada tiap – tiap teru – teru bozumu itu, bukan? Gambar senyum di
kepala si teru – teru itu bahkan memudar. Tidak lagi membentuk seuntai
senyuman, Lebih terlihat seperti raut wajah yang kusut. Ah, entahlah bukan
urusanku.
“ Kamu tidak akan
mengerti hujan seperti apa yang ingin aku usir.. “ Itu yang selalu kamu
utarakan ketika aku bertanya apa alasanmu melakukan hal aneh itu. Kamu terlihat
bodoh, bian! Kenapa kamu memilih untuk mengusir hujan? Hujan itu anugerah, kamu
tau kan? Itu kata guru SD kita dulu. Hujan itu berkah. Bahkan di agama kita ada
doa yang wajib dilafaldkan ketika turun hujan. Lantas kenapa kamu menolak habis
– habisan keadaannya?
“ Kamu ingin mengusir
hujan yang bagaimana? Siklonal? Orografis? Hujan frontal? Hujan muson? “ Tanyaku,
tapi kamu hanya diam memandang lurus kedepan teru – teru bozumu itu. Sembari
mengganti beberapa yang rusak dengan boneka yang baru kau buat. Menggantungnya
tepat didepan jendela kamarmu. Lagi.
“ Kamu tidak mengerti,
Nis. Dan semua jenis – jenis hujan yang kau katakan tadi, sungguh aku baru
pertama kali mendengarnya “ Suara nge-bassmu menggema didalam kamarmu yang
hanya ada kita berdua didalamnya.
Hahaha, Tidak tahukah
kamu bian? Aku juga baru tahu ada jenis – jenis hujan seperti itu. Siklonal,
orografis, dan apalah itu. Aku pikir semua hujan sama saja. Aku baru tau karena
membaca sebuah artikel tentang hujan di perpustakaan kampus kemarin. Aku bahkan
tidak terlalu mengingat hujan jenis siklonal itu terjadi karena apa. Cuma hujan
jenis muson yang aku tahu apa penyebabnya, hujan itu terjadi karena angin
musiman, karena ada pergerakan semu tahunan matahari antara garis balik utara
dan selatan. Dan tidak mungkin jenis hujan itu yang ingin kau usir, kan? Sebab
ini masih bulan juli, tidak ada hujan muson dibulan juli. Itu yang aku tahu.
***
Kamu memasangnya lagi, dengan raut wajahmu yang
begitu – begitu lagi. Bian, Kenapa tak kau biarkan hujan itu turun saja? Toh
sesudah hujan akan muncul pelangi. Waktu kecil kamu sangat suka pelangi, setiap
sehabis hujan dan tujuh warna bidadari itu muncul kamu pasti akan sangat girang
sekali, berlari dari rumahmu menuju rumahku hanya ingin menunjukkan si pelangi
nan cantik itu. Tapi sekarang kamu bahkan tidak mempersilahkan ia untuk
menyapamu barang sebentar. Sebentar, sebentar saja, bian.
Aku mencoba berbagai cara untuk membuatmu melupakan
aktivitas anehmu itu, membuat banyak sekali teru – teru bozu untuk kau gantung,
ya, dimana lagi kalau bukan didepan jendela kamarmu. Waktu bermainmu denganku
jadi banyak berkurang. Sudah berapa lama kita berteman dan aku merasa aneh
dengan kebiasaan barumu ini. Selalu ingin pulang kuliah lebih awal dan tidak
ada lagi waktu untuk sekedar hang-out melepas penat dari kegiatan kuliah yang
membosankan. Aku kehilangan kamu, bian. Ragamu masih didalam ruangan ini,
jiwamu? Kemana jiwamu? Sedang sibuk membuat teru – teru bozu jugakah?
***
Kamu tersenyum, Bian. Ya, senyum. Ini bukan senyum
yang biasa kulihat di kepala boneka anehmu itu. Ini senyummu. Senyum temanku,
sahabatku Bian. Sudah hampir 3 minggu kamu murung dan mengurusi boneka – boneka
pelet yang bergelantungan itu dan membuatku hampir lupa bagaimana senyummu.
Kamu bilang kamu sudah tidak perlu teru – teru bozu lagi, Hujanmu telah pergi. Dan, Pelangi. Kamu menyebutnya begitu. Karena dia
muncul sesudah hujanmu. Memayungimu saat kamu basah kuyup oleh hujan yang nakal
itu. Mengeringkanmu. Dan banyak lagi kata - kata yang kamu lontarkan, yang
tidak ku mengerti.
“ Aku selalu percaya akan muncul pelangi setelah
hujan, Nis.” Katamu. Bian, aku sungguh tidak mengerti. Perempuan itukah yang
kamu sebut pelangi? Aku pikir pelangi itu refleksi cahaya matahari yang
dipantulkan awan, dari definisi si Aristoteles. Tapi ternyata pelangimu beda,
pelangimu perempuan tinggi bertubuh langsing dengan kulit putih yang rambutnya
ikal sepinggang.
Bah! Kemana teru – teru bozu di depan jendela
kamarmu? Aku melihat sekeliling kamarmu, tidak ada lagi. Teru – teru bozumu,
pun kamu tak ada dikamarmu sendiri. Ibumu bilang, kamu baru saja keluar dengan
perempuan cantik definisi pelangimu itu. Mataku menangkap keranjang sampah
kecil di sudut kamarmu. Disitu ada banyak sekali boneka san.. ah, teru – teru
bozu maksudku. Kamu sudah tidak perlu mereka untuk mengusir hujan lagi kah, Bian?
3 minggu tidak mendengar tawamu, sekali melihat
senyummu lalu hilang dan tak ada. Kita tidak lagi seperti dulu bian. Kemana
kamu, jarang sekali bertemu di kampus. Kemana kamu, di rumah pun jarang. Setiap
aku ke rumahmu, ibumu selalu berkata kamu sedang keluar dengan seorang anak
perempuan. Kamu tak lagi sama, Bian. Sungguh, aku lebih memilih melihatmu duduk
merangkai teru – teru bozumu itu dengan wajah murung daripada harus
kehilanganmu disetiap harinya yang entah bermuara kemana bersama pelangimu itu.
Ada kepingan yang menghilang. Kamu, Bian. Temanku – sahabatku – kepingan kecil
puzzle kehidupanku. Sibuk mengurus pelangimu.
Aku merasa ada rintik disini. Aku melihat keluar
jendela kamarmu, tidak sedang hujan. Tapi aku seperti sedang basah kuyup.
Fatamorgana. Aku seperti kehujanan. Didalam sini. Kakiku tergerak berjalan ke arah sudut kamarmu, ke
arah keranjang sampah yang didalamnya terdapat banyak boneka.. teru – teru
bozu. Ku raih banyak, tidak satu – satu. Aku memasukannya kedalam tas, lalu
bergegas keluar dari kamarmu. Bian, aku mungkin memerlukan ini sekarang. Aku butuh
mengusir hujan ini. hujan jenis.. aku tidak mengerti. Yang jelas ini bukan
hujan jenis Siklonal, Orografis, frontal, atau jenis hujan Muson seperti yang
aku katakan padamu dulu, karena ini masih di akhir bulan juli. Kamu
mengajarkanku satu jenis hujan baru, jenis hujan yang belum pernah sebelumnya
ku tahu – ku baca.
Dan, kini perlahan aku mulai mengerti jenis hujan
apa yang dulu kamu maksudkan. aku curi teru – teru bozumu ini. Mungkin aku
perlu untuk menggantungnya didepan jendela kamarku, sepertimu, kemarin dulu,
Bian..
(((Nb: kemarin iseng - iseng ngirim cerpen ke majalah, eh alhamdulillah diterbitkan heheu. lumayan nambah - nambah duit jajan^^)))


Angkat topi buat ibu unu
BalasHapus