"Tidak ada bulan"
Sebab,
Hujan. Iya benar. Di malam rabu yang mana esoknya adalah tepat 22 tahun usiaku.
Sialan! Dentingan piano ini bersekongkol rupanya untuk membuat hatiku semakin rapuh.
Berdua mereka nampak serasi, sang wanita telihat cantik dibalut gaun putih panjang miliknya dengan gincu merah yang membuatnya semakin manis saat tersenyum. Persis seperti pengantin wanita yang sering kulihat ditelevisi.
Dan lelaki itu... Izinkan aku menjadi sedikit lebih sendu malam ini, sayang. Demi Tuhan, ia terlihat begitu berkharisma dengan setelan jas itu. Ha ha ha. Rautnya yang berbinar menandakan ia bahagia malam ini, tentu, yang hadirpun.
Begitu banyak makanan juga bunga - bunga warna pastel bergantungan ditiap sudut ruangan. Sayangnya, list lagu yang dibawakan si penyanyi acara membuatku mual. Lagu - lagu cinta yang bahagia, backsoundnya barangkali. Dan berhasil membuat mataku tiga kali melahirkan kaca, yang hampir retak, benar - benar sial!
Mungkin pada sebuah pernikahan, akan selalu ada satu dua hati yang patah, kurasa hatiku..
Eh tapi tidak, aku berbahagia. Iya. Tapi aku juga tidak begitu yakin. Istilahnya baper, dan aku percaya besok akan hilang dengan sendirinya dan tidak akan pernah lagi.
Tiba diakhir, aku menimang -nimang apakah harus memberikan ucapan selamat ataukah duduk saja ditempatku dengan tidak perlu memakai kacamata, agar aku tidak perlu melihat dengan jelas apa yang terjadi depan sana. Dan sial, lagi - lagi sial. Kakiku begitu saja membawaku melangkah menuju tempat dimana Raja dan Ratu itu berdiri menyambut tangan - tangan yang akan memberi doa.
Lihat dress hitamku, ini perayaan atas hatiku yang..
Tidak. Aku tidak merayakan apa - apa. Aku turut berbahagia.
Sampai tepat hadapannya, mataku hanya mampu menatap sepatu biru yang kupakai, aku mengulurkan tangan, lelaki berjas itu juga lalu kita resmi bersalaman.
"Hey, datang ya?"
"Terimakasih sudah datang"
Aku mengangguk. Ia tersenyum. Sepertinya. Sebab aku menunduk, demi segala apapun yang ada didalam ruangan ini, aku tidak berani mengangkat kepalaku. Ia pasti nampak manis dengan senyum itu.
Sialaaaan!
Kalimatnya terdengar seperti salam perpisahan,
"Hai lihat.. Aku sudah bahagia:) "
Tidak lama setelah itu, aku pulang.
Disudut hatiku yang paling dalam, diam - diam ia mendoakan kalian.
Selamat bahagia.
***
"Tidak ada bulan"
"Bulan?"
"Tidak perlu lihat ke langit:) "
(Nb: Mari menyusul mereka, sayang!:D)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar