Hampir pergi, Tuan. Tapi tak bisa. Masih selalu berbalik kearahmu lagi, selalu, selalu. Sekalipun dipaksa untuk tidak menoleh lagi, hati selalu pulang dengan sendirinya tanpa diminta. Bernaung kembali diwajah datarmu, berpayung kembali dibawah tatapan dinginmu, berteduh lagi ditajamnya kata - katamu.
sekalipun pedih nan perih, Tuan. Aku akan bersikap seperti... biasanya.
dan itu tak mengapa.
Tuan, katanya 'pergi' adalah cara menyelamatkan hati. Tapi kubiarkan saja hatiku tetap disini. Ku biarkan saja karena hatiku mungkin sudah tak bisa diselamatkan lagi. Masih mengharapkan, ah tidak, bahkan masih ingin kamulah yang selalu dihati dan tak boleh ada pengganti.
Sementara kamu tetap seperti kamu yang begitu - begitu saja.
dan itu tetap tak mengapa, Tuan.
aku tak apa.
Karena mungkin ternyata hati ini terus berharap lebih,
lalu aku harus bagaimana, lagi?
-Manado
19/6/14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar