Selasa, 27 Oktober 2015

perihal kepergian.

sedih. rasanya sesak, memilukan. lebih sedih ketimbang ditinggal pergi sang kekasih (btw, ini sedang nggak bermetafora). hidup tak hanya menyoal statis, tidak selamanya kamu akan berada didalam zona nyamanmu, satu waktu kamu harus terpaksa keluar karena dipaksa meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu tinggalkan.

seperti teman - temanmu, teman mainmu, sahabatmu, kalian bertemu karena dikondisikan waktu dan tempat. but finally, satu persatu akan pergi meninggalkan kamu dan semua cerita - cerita kalian dulu. lulus kuliah lebih dulu, pulang ke tempatnya masing - masing. dan kamu harus kembali belajar menyesuaikan diri karena akan berbuat dan melakukan apa - apa tanpanya.

rasanya kamu tidak ingin berpisah, rasanya masih banyak hal yang belum kalian lakukan bersama, namun waktumu sudah habis, selesai. kalian, barangkali hanya ditakdirkan menjadi sahabat temporer yang kemudian akan dipisahkan jarak lalu disuatu waktu hanya akan bertegur sapa lewat surat elektronik, saling melontarkan kata rindu, bernostalgia, kemudian berakhir pada pertanyaan "kapan akan bertemu lagi?". entah.

fahrian lalu riri dan kemudian besok giliran dini, hahaha kenapa malam ini jadi mellow begini?
otak tanpa diminta mengingat - ngingat kembali semua kenangan tentang dini, dari awal sampai akhir, tidak jangan sebut ini akhir, ini awal yang sesungguhnya. selamat memasuki dunia orang dewasa, dini my cancermate.
Im gonna miss you and ice cream.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Roman Picisan.

Haha untuk melihatmu, aku tidak butuh kacamata, Tan. Segalanya terasa jelas, segalanya begitu nyata walau lampu remang menambah rabun di mataku.
Dan aku tidak pernah salah duga, matamu tetap seperti panda lalu mereka tampak lelah, tidurmu tak teratur? atau bagaimana? memang seperti itu matamu?

Kamu banyak tersenyum malam tadi, Tan. Barangkali kamu sedang bahagia? yang entah aku tak tau untuk apa dan siapa karena apa.

Ini klasik dan menjijikkan tapi sumpah aku ingin waktu berhenti sejenak ketika kamu berada tidak jauh di depanku saat tengah asik melahap mie ceplok yang kamu pesan. Aku tahu, kamu tahu aku memperhatikanmu dari balik punggung temanmu. Akan lebih bagus lagi jika aku tahu, kamu salah tingkah saat itu.

Perasaanku, Tan, jangan tanya bagaimana. Maksudku jika kamu bertanya apa aku bahagia saat bertemu denganmu malam tadi, tidak ragu - ragu akan ku jawab YA. Tapi kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, perasaan seorang anak perempuan kepada seorang lelaki, rasanya sudah menghilang Tan, aku bahkan tidak deg - degan lagi. Aku tidak malu - malu lagi, tidak sembunyi - sembunyi lagi, aku sudah besar, Tan. Aku sudah pandai mengontrol perasaanku. Rasanya tidak sama lagi, tapi kamu akan selalu di hati.

Ku harap kamu pun senang bertemu dan melihat perubahan sikapku yang sudah lebih dewasa saat berada di dekatmu. Aku tahu, setelah ini kamu mungkin lupa pernah bertemu denganku, tapi aku tidak ingin Tan, aku harus menulisnya, mereka harus kuabadikan. Agar dapat ku kenang terus menerus. Saat aku terlalu lelah menghadapi urusan di Kampus akan ku baca lagi tulisan tentangmu, mungkin, mungkin mereka akan membikin hatiku senang lagi. Kupikir aku perlu itu untuk nanti.

Tan yang tidak pernah berubah, iya jangan berubah. Tetap menjadi Tan yang seperti itu saja. Gaya, sikap, begitu - begitu saja. Aku bahkan tidak apa kalau kamu tetap sedingin esbatu saat ada didekatku, atau kamu bahkan enggan menyebut namaku maka kamu tidak pernah menyebutnya, aku tidak apa. Karena kamu yang seperti itulah yang aku suka. Dan usia perasaanku mereka sudah hampir memasuki tahun ke 5. Dan kamu begitu - begitu saja. Jangan pernah jadi ramah.

Sampai bertemu dilain waktu, Tan..

Disaat itu, walau usiaku dan usiamu terus bertambah, pelan - pelan aku juga akan tumbuh menjadi wanita dewasa dan bertemu banyak orang baru nantinya, mencintainya, ku pastikan aku akan terus menyukaimu. Sebatas menyukaimu.

Karena mungkin, takdirku di kehidupanmu selamanya hanya akan sebatas itu..

Semoga mereka mengerti.

Nisa.

Takdir.


Kamu percaya takdir, Tan? Saya percaya. Sangat percaya. Takdir membawa saya bertemu dengan kamu, malam ini, melalui banyak perantara. Mungkin kamu tidak percaya, mungkin. Tapi saya percaya.
Kalau kamu pikir setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi sebab masing - masing dari kita akan sibuk dengan hidup yang akan kita jalani di kota yang berbeda, saya tidak, Tan.
Saya percaya kapan dan dimanapun nanti, jika Tuhan bilang "bertemu", kita pasti bertemu lagi. Bagaimanapun caranya.
Dengan takdir kita berdua yang (mungkin) akan tetap selamanya seperti itu, menjadi sepasang pemuja dan idola.
Kamu, barangkali juga harus jadi percaya, Tan.

(manado, oktober 2015)

Kamis, 15 Oktober 2015

Beda.

from tumblr

The power of "cuma kamu" but the truth is..... "cuma kamu, dan kamu, dan kamu dan kamu..."
Oh, rasa.
katanya kamu sudah mati, kenapa hidup lagi?
barangkali kamu cuma mati suri?
Entah, belakangan rasa sesak lebih juara daripada rasa - rasa yang ada.
Seperti kamu di bekap sesuatu yang meracunimu dari belakang,
atau
kamu dipaksa menggendong beban seberat seratus lima puluh ribu lapan tiga ratus enam ribu juta ton.
 
Kamu nggak akan kuat, sayang.

(Sambil mendengarkan Lionel Richie - Hello)

Selasa, 13 Oktober 2015

Ini tentang...


Kemarin - kemarin iseng buka Facebook, liatin status lama juga note - note lama, lalu nemu satu note pendek di tahun 2013. Mikir lama, apa yang ada dibenak saya pas nulis ini, kenapa saya bisa nulis ini, gimana kejadiannya kok bisa begini, karena pas saya baca lagi tulisan itu sekarang saya gak ngerti hehe.

" diatas. kita sedang berada pada jarak
yang sangat
dekat.
kaki tinggal melangkah hanya dengan
beberapa hitungan saja lalu sampai
ditempatmu.
tapi kamu dimana?
tidak kasat mata.
atau minus dimataku bertambah?
atau
bukan giliranmu saat ini?
jadi kapan waktu akan berbaik hati
mempertemukan
kita, lagi? "

Setelah dibaca terus - terusan akhirnya ngerti juga kenapa saya nulis catatan itu. kapan dan waktunya saya ingat betul. ternyata catatan itu memang ditujukan untuk seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Tan. tulisan itu dibuat pada bulan juni di tahun 2013 tepat di hari wisudanya.
Saya yang ditemani Ilona hampir saja membolos satu mata kuliah (yang pada saat itu sedang UAS) demi hanya untuk melihat proses wisuda Tan di Aula fakultas.

Dari jauh saya memanfaatkan smartphone saya untuk menulis catatan ini, Tan ada di depan saya, dia jelas - jelas ada, namun saya tidak berani untuk menghampiri dia hanya untuk mengucapkan 'selamat wisuda'. Ilona mengajak untuk mendekati Tan, tapi saya tidak seberani itu. seperti yang sudah - sudah saya hanya berdiri dari sudut paling rahasia, melihat senyum bahagianya dari kejauhan, dan diam - diam berbisik mengirimkan ucapan selamat juga doa - doa baik agar ia selalu di berkati Tuhan. betapa menyedihkan jatuh cinta sendirian.

Membaca kembali tulisan itu, mengingat - ngingat kembali ceritanya membikin hati terasa sesak. sesak karena rindu. Berbicara tentang pemuja rahasia, berbicara tentang jatuh cinta diam - diam, berbicara tentang cinta yang tak terbalas, ya berarti berbicara tentang Tan.

Sampai kapanpun, Tan akan tetap jadi kenangan paling manis di masa perkuliahan saya.

Fyi, saya sudah semester akhir, Tan. Sedang menunggu waktu untuk seminar proposal, setelah itu mungkin akan (sok) sibuk menulis skripsi. Saya sudah hampir lulus, Tan. Saya sudah hampir pergi. Tapi kamu harus tetap tinggal. Semoga akan tetap tinggal :)

Jumat, 09 Oktober 2015

Let's move!


Move. Awalnya pasti sulit. Yang biasanya kalian saling sapa, kamu nyapa duluan atau mungkin dia yang nyapa terus - terusan. Lalu kalian ngebahas apa aja, dan nyaman, NYAMAN, satu kata yang bisa ngebuat hancur obrolan - obrolan selanjutnya.
Karena si nyaman inilah segala - galanya di sangkut pautkan dengan perasaan, karena si nyaman inilah semua - muanya jadi mellow total.
Mungkin ini sedang berbicara tentang diri saya, atau berbicara tentang orang lain mungkin.
Lalu setelah merasa sangat nyaman, kalian baru sadar dan bilang "Eh iya. Kan kita bukan siapa - siapa"
"Kamu envy kenapa?"
dan kamu nggak tau jawabannya apa.
Akhirnya kamu malu, obrolan jadi gak seru. Kamu hanya perlu waktu sedikit lagi tidak lama dia akan pergi karena dia baru menyadari 'she's so freakin weird' walaupun perkenalan kalian atas dasar "we are same, let's be weird together!"
Move. Move. Move on.
Seharusnya, dan semestinya rasa nyaman gak kamu pelihara. Toh awalnya kamu gak ngerasa apa - apa kan? barangkali, perlakuannya ke kamu teramat istimewa. HAHAHA iya kamu ngerasa gitu, bayangkan kamu jadi kamu, kamu tentu juga akan ber.... bunga - bunga. Tapi si gadisnya muncul, dan hadir terus tanpa kamu tau,
I feel for her what she's feeling for you. Dan si gadis yang pertama, kamu mah apa, huh?
Hey, i should be 'biasa aja' right? coz the truth is we are just a stranger.

Kamis, 08 Oktober 2015

Nostalgia.


"Aku adalah hujan, kalau kamu gak suka gak apa - apa. Silahkan berteduh" -PidiBaiq

Miss searching, katanya aku autis. Kepoku keterlaluan. Makanya dia gak betah lalu pergi,
pulang ke Jupiter. Karena memang rumah penduduk Sagitarius disana.

Dia pulang dan berteduh.
Aku di Pluto sendirian, tapi tidak apa. Setelah ini aku ke Bulan.
Angkasa penuh rahasia, hatiku juga. Hujan akan beku.
Dia harus tahu.

8/10/2015

Minggu, 04 Oktober 2015

jhyfdeswknvxx

Are you okay?

No.

Saya sedang tidak baik - baik saja, maka saya lari. Cuma itu yang saya bisa. Kabur. Sembunyi.
Kasih saya mantra yang bisa membuat hilang, dan sekali muncul lalu tiba di bulan. atau pluto. Berbagi cerita dengan alien pakai bahasa Indonesia HAHAHA mungkin menakutkan. Tapi tak apa. Mungkin saya menakutkan didalam pikirannya.

Saya harus kabur kemana?

Saya mesti kabur kemana?

Jangan tanya saya kenapa, jangan ajak saya bicara. SAYA SEDANG TIDAK INGIN DISAPA DAN MENYAPA!!
Saya mau kabur. Nanti kalau agak mendingan, saya pasti kembali.
Tapi tidak usah ditunggu.

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...