Sabtu, 24 Oktober 2015

Roman Picisan.

Haha untuk melihatmu, aku tidak butuh kacamata, Tan. Segalanya terasa jelas, segalanya begitu nyata walau lampu remang menambah rabun di mataku.
Dan aku tidak pernah salah duga, matamu tetap seperti panda lalu mereka tampak lelah, tidurmu tak teratur? atau bagaimana? memang seperti itu matamu?

Kamu banyak tersenyum malam tadi, Tan. Barangkali kamu sedang bahagia? yang entah aku tak tau untuk apa dan siapa karena apa.

Ini klasik dan menjijikkan tapi sumpah aku ingin waktu berhenti sejenak ketika kamu berada tidak jauh di depanku saat tengah asik melahap mie ceplok yang kamu pesan. Aku tahu, kamu tahu aku memperhatikanmu dari balik punggung temanmu. Akan lebih bagus lagi jika aku tahu, kamu salah tingkah saat itu.

Perasaanku, Tan, jangan tanya bagaimana. Maksudku jika kamu bertanya apa aku bahagia saat bertemu denganmu malam tadi, tidak ragu - ragu akan ku jawab YA. Tapi kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, perasaan seorang anak perempuan kepada seorang lelaki, rasanya sudah menghilang Tan, aku bahkan tidak deg - degan lagi. Aku tidak malu - malu lagi, tidak sembunyi - sembunyi lagi, aku sudah besar, Tan. Aku sudah pandai mengontrol perasaanku. Rasanya tidak sama lagi, tapi kamu akan selalu di hati.

Ku harap kamu pun senang bertemu dan melihat perubahan sikapku yang sudah lebih dewasa saat berada di dekatmu. Aku tahu, setelah ini kamu mungkin lupa pernah bertemu denganku, tapi aku tidak ingin Tan, aku harus menulisnya, mereka harus kuabadikan. Agar dapat ku kenang terus menerus. Saat aku terlalu lelah menghadapi urusan di Kampus akan ku baca lagi tulisan tentangmu, mungkin, mungkin mereka akan membikin hatiku senang lagi. Kupikir aku perlu itu untuk nanti.

Tan yang tidak pernah berubah, iya jangan berubah. Tetap menjadi Tan yang seperti itu saja. Gaya, sikap, begitu - begitu saja. Aku bahkan tidak apa kalau kamu tetap sedingin esbatu saat ada didekatku, atau kamu bahkan enggan menyebut namaku maka kamu tidak pernah menyebutnya, aku tidak apa. Karena kamu yang seperti itulah yang aku suka. Dan usia perasaanku mereka sudah hampir memasuki tahun ke 5. Dan kamu begitu - begitu saja. Jangan pernah jadi ramah.

Sampai bertemu dilain waktu, Tan..

Disaat itu, walau usiaku dan usiamu terus bertambah, pelan - pelan aku juga akan tumbuh menjadi wanita dewasa dan bertemu banyak orang baru nantinya, mencintainya, ku pastikan aku akan terus menyukaimu. Sebatas menyukaimu.

Karena mungkin, takdirku di kehidupanmu selamanya hanya akan sebatas itu..

Semoga mereka mengerti.

Nisa.

2 komentar:

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...