Jumat, 29 Juli 2016

hujan.


Hari hujan.
Dua gadis usia remaja menari - nari didalamnya, dihalaman depan rumah. "Sudah sangat lama". Dingin, sementara pakaian mereka kuyup.


Satu jam...

Dua jam berlalu...

Semakin dingin.


" Mbak unu, uni... Sudah cukup, lekas masuk " perempuan paruh baya meneriaki dari dalam rumah

Dan rindu berterbangan ke masa lalu.
Ke masa kanak dulu.
Sudah lama rasanya.

Minggu, 24 Juli 2016

Tidak ada "Selamat ulang tahun", hanya ada sedikit doa yang tidak kau ingat karena.. entahlah kau rasa, kau kecewa dan kubiarkan begitu saja, sampai akhirnya kau tetap coba memahami.

Begitupun dengan pengulangan kata 'maaf' dariku setiap kali moodmu memburuk. Ku minta agar kau mengerti, padahal kau sendiri tidak paham apa yang harus kau mengerti. Alasannya tidak kusebutkan. Andai aku tahu, tiga kata sialan itulah yang paling kau tunggu.

Kau tak apa walau semua orang lupa hari lahirmu, kau tidak peduli, asal aku saja yang tetap ingat. Setidaknya kuberi ucapan walau hanya dengan biasa - biasa saja. Tidak perlu sepertimu yang dengan bodohnya membelikan sepotong tart kecil dan merayakan hari ulangtahunku sendirian tepat dipukul 00.00

Ya. Aku ingat,  tapi kau tetap saja tidak mengerti apa alasanku; kenapa tak ku ucapkan saja tiga kata sialan yang kau tunggu - tunggu itu, untukmu? Lalu, perayaan selamat pada setiap tanggal 13 itu harus kusebut apa?

Sudahlah, lagipula sudah berakhir.

"Selamat ulang tahun" kuucap dariku, untuk diriku.
Begitu saja barangkali cukup.

Kamis, 21 Juli 2016

Senin, 18 Juli 2016

Aku bahagia.
Selalu,
Kadang lelah
Tapi bahagia
Lebih
Denganmu.
Sampai jumpa,
Bukan
Selamat tinggal...
Terimakasih.

-gula(mu)

Rabu, 13 Juli 2016

Selamat

"Tidak ada bulan"

Sebab,

Hujan. Iya benar. Di malam rabu yang mana esoknya adalah tepat 22 tahun usiaku.
Sialan! Dentingan piano ini bersekongkol rupanya untuk membuat hatiku semakin rapuh. 

Berdua mereka nampak serasi, sang wanita telihat cantik dibalut gaun putih panjang miliknya dengan gincu merah yang membuatnya semakin manis saat tersenyum. Persis seperti pengantin wanita yang sering kulihat ditelevisi.

Dan lelaki itu... Izinkan aku menjadi sedikit lebih sendu malam ini, sayang. Demi Tuhan, ia terlihat begitu berkharisma dengan setelan jas itu. Ha ha ha. Rautnya yang berbinar menandakan ia bahagia malam ini, tentu, yang hadirpun. 

Begitu banyak makanan juga bunga - bunga warna pastel bergantungan ditiap sudut ruangan. Sayangnya, list lagu yang dibawakan si penyanyi acara membuatku mual. Lagu - lagu cinta yang bahagia, backsoundnya barangkali. Dan berhasil membuat mataku tiga kali melahirkan kaca, yang hampir retak, benar - benar sial!

Mungkin pada sebuah pernikahan, akan selalu ada satu dua hati yang patah, kurasa hatiku..
Eh tapi tidak, aku berbahagia. Iya. Tapi aku juga tidak begitu yakin. Istilahnya baper, dan aku percaya besok akan hilang dengan sendirinya dan tidak akan pernah lagi.

Tiba diakhir, aku menimang -nimang apakah harus memberikan ucapan selamat ataukah duduk saja ditempatku dengan tidak perlu memakai kacamata, agar aku tidak perlu melihat dengan jelas apa yang terjadi depan sana. Dan sial, lagi - lagi sial. Kakiku begitu saja membawaku melangkah menuju tempat dimana Raja dan Ratu itu berdiri menyambut tangan - tangan yang akan memberi doa. 

Lihat dress hitamku, ini perayaan atas hatiku yang..
Tidak. Aku tidak merayakan apa - apa. Aku turut berbahagia.

Sampai tepat hadapannya, mataku hanya mampu menatap sepatu biru yang kupakai, aku mengulurkan tangan, lelaki berjas itu juga lalu kita resmi bersalaman.

"Hey, datang ya?"

"Terimakasih sudah datang"

Aku mengangguk. Ia tersenyum. Sepertinya. Sebab aku menunduk, demi segala apapun yang ada didalam ruangan ini, aku tidak berani mengangkat kepalaku. Ia pasti nampak manis dengan senyum itu.
Sialaaaan! 
Kalimatnya terdengar seperti salam perpisahan,

"Hai lihat.. Aku sudah bahagia:) "

Tidak lama setelah itu, aku pulang.

Disudut hatiku yang paling dalam, diam - diam ia mendoakan kalian.

Selamat bahagia.

***

"Tidak ada bulan"

"Bulan?"

"Tidak perlu lihat ke langit:) "

(Nb: Mari menyusul mereka, sayang!:D)

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...