Minggu, 30 Oktober 2016

Sudah Pernah

Ini malam minggu. Aku tidak mengerti apa spesialnya dari malam ini, tapi dari yang kulihat ini seperti malam perayaan bagi sepasang kekasih, mereka membuat malam ini seolah menjadi malam yang paling ditunggu - tunggu padahal kurasa biasa saja.

Dan dimalam yang katanya panjang ini, kutebak, kau sedang menghabiskannya dengan perempuan itu. Kau memperkenalkannya sebagai kekasih. Bukan tidak, aku yang menebaknya sendiri. Kami--maksudku--aku--dan--perempuanmu, tidak saling mengenal, namun yg kuliat ia nampak manis. Kau suka yang manis - manis ya? 

Potongan rambutnya adalah potongan termainstream setahun belakangan ini. Dapat kukatakan model semi bob namun sedikit panjang, kira - kira seleher hampir mencapai bahu. Tinggi, dan keliatannya begitu mnyangimu. Kalian sungguh sepasang yang beruntung. Akankah orang lain menyebut kita beruntung ketika posisi perempuan itu diganti menjadi aku? 

Kamu tidak pernah melihatnya tapi kami punya model rambut yang sama. 
Rasanya pasti menyenangkan menjadi kekasihmu, orang - orang akan menyebutku dengan sebutan 'bla kekasih blah'. Ah, membayangkannya saja hatiku rasanya mau lompat kluar dari dalam dada. 

***

Bukan perempuan berambut semi bob itu lagi yang berstatus sebagai kekasihmu. Malam minggu berbeda, kau merayakan dengan orang yang berbeda pula. Bulan berlalu, dan perempuan itu yang menggantikannya. Secepat itukah? 

Kali ini perempuan bertudung dengan wajah tak kalah manis dari yang sebelumnya, kulihat ia pandai menjerat gambar. (Hey, kau tahu, cuma begitu akupun bisa. Hhh) 

Ia berparas ayu, kukira. Dan (lagi) kalian adalah sepasang beruntung.

***

Aku tau banyak yang mengilaimu, itu nampak sangat jelas. Perempuan - perempuan yang, dibanding denganku, tentu aku kalah jauh. Tak apa. Aku tidak menaruh harap yang berlebih agar bisa menjadi seberuntung yang sudah - sudah.

Begini saja, aku amati gerak - gerikmu. Bulak - balik menekan tombol refresh disebuah akun agar tidak terlewatkan postingan terbaru milikmu. Seperti ini, aku sudah pernah. Aku ini ahlinya.

Kau percaya?

Sabtu, 29 Oktober 2016

Tak Ada Bulan, Tapi Selamat Berbahagia

"Tidak ada bulan"
Sebab,

Hujan. Iya benar. Di malam rabu yang mana esoknya adalah tepat 22 tahun usiaku.

Sialan! Dentingan piano ini bersekongkol rupanya untuk membuat hatiku semakin rapuh.
Berdua mereka nampak serasi, sang wanita telihat cantik dibalut gaun putih panjang miliknya dengan gincu merah yang membuatnya semakin manis saat tersenyum. Persis seperti pengantin wanita yang sering kulihat ditelevisi.
Dan lelaki itu...

Izinkan aku menjadi sedikit lebih sendu malam ini, hati. Demi Tuhan, ia terlihat begitu berkharisma dengan setelan jas itu. Ha ha ha. Rautnya yang berbinar menandakan ia bahagia malam ini, tentu, yang hadirpun.
Begitu banyak makanan juga bunga - bunga warna pastel bergantungan ditiap sudut ruangan. Sayangnya, list lagu yang dibawakan si penyanyi acara membuatku mual. Lagu - lagu cinta yang bahagia, backsoundnya barangkali. Dan berhasil membuat mataku tiga kali melahirkan kaca, yang hampir retak, benar - benar sial!

Mungkin pada sebuah pernikahan, akan selalu ada satu dua hati yang patah, kurasa hatiku..

Eh tapi tidak, aku berbahagia. Iya. Tapi aku juga tidak begitu yakin. Istilahnya baper, dan aku percaya besok akan hilang dengan sendirinya dan tidak akan pernah lagi.
Tiba diakhir, aku menimang -nimang apakah harus memberikan ucapan selamat ataukah duduk saja ditempatku dengan tidak perlu memakai kacamata, agar aku tidak perlu melihat dengan jelas apa yang terjadi depan sana. Dan sial, lagi - lagi sial. Kakiku begitu saja membawaku melangkah menuju tempat dimana Raja dan Ratu itu berdiri menyambut tangan - tangan yang akan memberi doa.

Lihat dress hitamku, ini perayaan atas hatiku yang..

Tidak. Aku tidak sedang merayakan apa - apa. Aku turut berbahagia.
Sampai tepat dihadapannya, mataku hanya mampu menatap sepatu butut warna biru yang kupakai, aku mengulurkan tangan, lelaki berjas itu juga lalu kita resmi bersalaman.
"Hey, datang ya?"
"Terimakasih sudah datang"

Aku mengangguk. Ia tersenyum. Sepertinya. Sebab aku menunduk, demi segala apapun yang ada didalam ruangan ini, aku tidak berani mengangkat kepalaku. Ia pasti nampak manis dengan senyum itu.
Sialaaaan!
Kalimatnya terdengar seperti salam perpisahan,
"Hai lihat.. Aku sudah bahagia:) "
Tidak lama setelah itu, aku pulang.
Disudut hatiku yang paling dalam, diam - diam ia mendoakan kalian.
Selamat bahagia.
***
"Tidak ada bulan"
"Bulan?"
"Tidak perlu lihat ke langit:) "

Minggu, 23 Oktober 2016

Sewaktu masih berkuliah di Manado, hampir setiap hari saya berbincang dengan Ma dan Baba (re: bapak tapi saya terbiasa memanggil beliau Ba) di telepon. Satu, dua, tiga menit. Tiga sampai empat kali dalam sehari. Dengan obrolan dan pertanyaan yang sama setiap harinya, sedang apa, sudah makan dan sejenisnya. Pernah disela - sela obrolan itu saya meminta kepada Ba dan Ma berjanji agar selalu sehat danbahagia hingga saya pulang ke rumah. 

"Ba, jangan sakit neh?"
"Iya, inshaallah"
"Pokoknya janji. Sehat terus"
"Inshaallah"

Begitu selalu jawaban Ba setiap kali saya memintanya berjanji, dalam hal apa saja. Inshaallah 'jika allah menghendaki', karena siapa yang tahu jika hari ini Ba nampak lemas dengan tubuh renta yang terbaring diatas ranjang itu? Kulitnya, sekujur tubuhnya penuh dengan kerutan. Wajahnya, sungguh saya lebih memilih melihat wajah galaknya ketimbang wajah lesu begitu. Allah sedang menyayangimu, Ba. 

Tenang saja, janjimu untuk selalu sehat itu tidak akan saya tagih. Semoga allah mengangkat semua dosa - dosamu melalui sakit ini. 

Ba tipikal seorang yang pandai menyembunyikan perasaannya, Ba juga tidak pandai mengekspresikan apa yang dia rasa. Sakitnya dipendam untuk dirinya sendiri, tapi Ba, tidak tahukah jika terlalu lama memendam, suatu saat apa yang dipendam itu akan meledak? 

Bagilah sedihmu untuk saya. Sedikit saja. Nanti saya beri banyak bahagia yang saya punya untukmu. Ambilah jatah sehatku, ceriaku, dan jangan membuat patah hatiku karena melihatmu sulit untuk berbicara, atau tertatih untuk berjalan, atau selalu ingin berbaring karena mudah merasa lelah, atau harus menghabiskan obat - obat dokter disetiap harinya yang entah sampai kapan, atau kesulitan mengunyah makananmu, atau.. 

Karena Ba adalah orang yang kuat, dan melihatnya kesakitan membuat saya menjadi seorang anak yang paling menyedihkan karena tidak menjaganya dengan baik, memahami perasaannya, memperlakukannya bagai seorang raja.

Sehatlah, Ba... 

Kamis, 20 Oktober 2016

Aamiin


Mengapa hari ini langit kelabu?
Ku pikir ia bersekongkol dengan hatiku.
Berniat menghujaniku?
Aku sudah terlalu kuyup, Neptunus.
Mintalah airmu agar tdk menguap naik ke awan.  Ini menakutkan, bergelombang. Sepanjang mata memandang hanya lautan.
Kuharap suatu hari, kemana saja kumelangkah, seseorang mau menemaniku.
Pasti mengasikkan.


(Dalam perjalanan menuju pulang) 

Aamiin

Mengapa hari ini langit kelabu?
Ku pikir ia bersekongkol dengan hatiku.
Berniat menghujaniku?
Aku sudah terlalu kuyup, Neptunus.
Mintalah airmu agar tdk menguap naik ke awan.  
Ini menakutkan, bergelombang. Sepanjang mata memandang hanya lautan.
Kuharap suatu hari, kemana saja kumelangkah, seseorang mau menemaniku.
Pasti mengasikkan.


(Dalam perjalanan menuju pulang) 

Sabtu, 15 Oktober 2016

Bersenang - senang dahulu, bersakit - sakit kemudian..

"Susah tidur serius. Ga abis - abis mikirin kamu"
"Jangan dipikirin, nanti jatuh Cinta"
"Aku udah jatuh terlalu dalam"
"Masaaaa? "
"Begitulah mungkin, kalo kamu juga ngerasain"

***

"Sayang banget? "
"Gatau. Aku takut kehilangan"

***

"Kalo aku jadi tambah sayang, tanggung jawab, ya! "
"Asik! Siap grak!  Berani berbuat harus berani bertanggung jawab dong"

***

"Aku jadi takut, kalo kita itu cuma jadi harapan buat masing - masing kita"

Kamis, 13 Oktober 2016

Aku tahu punggungmu suka datang rasa sakit, bukan penyakit kronis, kau tidak tahu penyebabnya apa. Katamu kau malas memeriksakannya. Rasa sakitnya bukan hanya pada punggung sebelah kiri, mereka menyebar sampai ke pinggang bagian bawah. Saat terlalu lama duduk, kau akan tertatih untuk berdiri karena sakit itu tiba - tiba akan datang lagi. Ngilu pada tulang. Encok. Kau nampak seperti perempuan renta. 

Disuatu pagi, kau duduk dengan tanganmu mengotak atik sebuah dunia yang berada didalam layar handphonemu. Kau berjalan - jalan didalam sana. Sesekali kau mengerutkan dahimu, atau memicingkan mata karena cahaya dari layar begitu menyilaukan. Lalu akhirnya, kau temukan sebuah gambar di-masa lalu milik seseorang. 

Sepasang kekasih duduk bersama, sang gadis menyenderkan kepala pada bahu lelaki, ia tersenyum. Sepertinya bahagia. Lelaki nampaknya juga, walau bibirnya tidak menyunggingkan senyum serupa. 

Kau hentikan perjalananmu. Kau bangun dari dudukmu, punggung beserta pinggangmu kumat lagi. Kali ini sakitnya makin menjadi. Kali ini sakitnya sakit sekali. 

Kali ini sakitnya sakit sekali... 

Sabtu, 08 Oktober 2016

Aku nyaman di dalam rumahmu. 
Aku tenang.
Aku menunggu dan tidak memaksa,
Tapi aku dipersilahkan pergi.

Kamis, 06 Oktober 2016

TERA ERRAU

Tera Errau, 
Selalu ada satu orang khusus yang akan mendengarmu, dengan siapa kamu dapat bicara tentang hampir segalanya. Menjadi orang yang memahami ketika engkau butuh.
Dia adalah yang datang kepadamu, bukan untuk bicara soal cinta tetapi untuk menghadirkan dirinya yang pandai membuat dirimu senang, membuat dirimu tenang.
Dia mendengar perasaanmu bahkan tanpa perlu kau ungkap melalui kata-kata. Ketika dia membuat dirimu tenang, kau mengerti untuk apa dia bersamamu.
Dia adalah orangnya yang akan merisaukan dirimu ketika jauh, di hari yang hujan dan penuh petir.
Kemudian dengannya kamu tersenyum, kamu ketawa, bahwa pada orang yang kau cintai, tak akan pernah peduli dengan apapun yang kau takutkan.
Berkata dia:  “Jika aku mencintaimu, sebagai benar-benar mencintaimu, sesibuk apapun diriku, selalu akan berusaha meluangkan waktu untukmu”
Pelajaran mendapat hikmat kasih sayang, datang darinya, dan engkau tidak usah mencarinya karena dia selalu ada waktu untuk bersama dengan dirimu.
Pikiran atas kasih sayang yang dia berikan kepadamu, menjadi dasar di atas semua sikap dan perilakunya kepadamu.
Bahkan jika dia harus mengatakan “aku mencintaimu” kamu merasa tidak perlu lagi untuk memeriksa kesungguhannya.
Kamu hanya memiliki keyakinanmu sendiri bahwa kamu mencintainya dan itu serius.
Adakalanya kamu marah kepadanya, tetapi dia berkata: “Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu”
Engkau tersenyum, dan ketika tidur kau ingat apa yang dikatakannya: “Jika aku sudah Sayang. Tak akan pernah berakhir, bahkan ketika kamu ingin berhenti”
Maka ketika itulah yang akan kau rasakan bersama dengannya jika benar ia ada. Mengatakannya dalam gelombang kekuasaan logika dan perasaan.
Berterimakasihlah kepada dirimu sendiri yang sudah bisa membuat dia menyayangi dirimu dan katakanlah: “Yang melibatkan diriku, engkaulah ahlinya”
Asmara itu menggelora, dan kamu ingin bersamanya karena kamu tahu dengan siapa kamu bisa tenang. 

-Pidi Baiq,  
1972-2098

Life.

Nvivpz yviwfz hfwzs nvozmtpzs
Qzfs wzm pznf,  mrhz,  nzhrs hgfxp wrhrgf hzqz. Wzm pznf rir hhhhh wzm nvivpz yzsztrz.
Rolmz wzm trgz, prgz wfof kfmbz yzmbzp nrnkr bzmt hznz. Gzkr hvpzizmt, hzbz yviqzozm hvmwrir gzkr pzorzm gvgzk qzozm yviwfz.
Hzbz, irmwf prgz.....

Selasa, 04 Oktober 2016

4/10

Sweet ya, kalau diam - diam ada orang yang terinspirasi nyiptain sebuah karya karena kita. Puisi, lukisan, lagu? 

Sebagai perempuan yang punya hobi curhat di diary, juga punya skil amatiran ngejiplak foto di paint tool menjadi sebuah gambar, saya selalu mengekspresikan perasaan saya kedalam sebuah puisi yang sebenarnya bisa atau nggak disebut puisi, saya juga gatau. Atau kalau sedang dalam mood bagus, dengan suka rela saya akan menggambar si orang yang disuka lalu menyimpan gambarnya untuk diri saya sendiri. Kalau sedang agresif saya akan memberikan gambar tersebut pada orang yang saya sukai itu hhh. Saya ingin dia tau, ada cinta disetiap garis garis yang membentuk gambar wajahnya hh. 

Rasanya saya bisa jatuh cinta jika bertemu orang seperti saya, rasanya jika boleh memuji diri sendiri; saya terlalu manis untuk ukuran orang yang sedang jatuh cinta (walaupun sebenernya nggak juga sih hh) 

Sesekali saya juga ingin jadi alasan dibalik sebuah karya milik seseorang hh. 
Tiga tahun lalu, saya mengenal sebuah lagu berjudul 'Nissa Pt 2' yang dibawakan apik oleh M Irfan Assaat (ia memakai nama Nila untuk objek ekspresi musik - musiknya). Lagu itu menjadi salah satu lagu favorit saya hingga saat ini. Alasan yang mudah ditebak, benar, karena nama Nissa yang digunakan sebagai judul lagu tersebut. 

Setiap saya mendengar Nissa Pt 2, saya selalu merasa seolah - olah lagu itu diciptakan untuk saya hhhhhh
"Nissa.. Hope that we'll meet again" kurang lebih begitu lirik pada reffnya (yang dapat saya tangkap). Saya kurang ngerti juga lagu Nissa ini bercerita tentang apa, soalnya udah nyari kemana - mana tapi cuma nemu satu artikel mengenai Nila dan lagu - lagunya. 

Jadi, inti dari postingan ini apa ya, Nis? 
Apa ya hhh gatau. 
Pokonya biar ada tulisan baru di blog ajah, oktober ini saya berniat agar lebih produktif lagi untuk curhat dan memasukkannya kedalam blog. Ya semoga terealisasi.

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...