Sewaktu masih berkuliah di Manado, hampir setiap hari saya berbincang dengan Ma dan Baba (re: bapak tapi saya terbiasa memanggil beliau Ba) di telepon. Satu, dua, tiga menit. Tiga sampai empat kali dalam sehari. Dengan obrolan dan pertanyaan yang sama setiap harinya, sedang apa, sudah makan dan sejenisnya. Pernah disela - sela obrolan itu saya meminta kepada Ba dan Ma berjanji agar selalu sehat danbahagia hingga saya pulang ke rumah.
"Ba, jangan sakit neh?"
"Iya, inshaallah"
"Pokoknya janji. Sehat terus"
"Inshaallah"
Begitu selalu jawaban Ba setiap kali saya memintanya berjanji, dalam hal apa saja. Inshaallah 'jika allah menghendaki', karena siapa yang tahu jika hari ini Ba nampak lemas dengan tubuh renta yang terbaring diatas ranjang itu? Kulitnya, sekujur tubuhnya penuh dengan kerutan. Wajahnya, sungguh saya lebih memilih melihat wajah galaknya ketimbang wajah lesu begitu. Allah sedang menyayangimu, Ba.
Tenang saja, janjimu untuk selalu sehat itu tidak akan saya tagih. Semoga allah mengangkat semua dosa - dosamu melalui sakit ini.
Ba tipikal seorang yang pandai menyembunyikan perasaannya, Ba juga tidak pandai mengekspresikan apa yang dia rasa. Sakitnya dipendam untuk dirinya sendiri, tapi Ba, tidak tahukah jika terlalu lama memendam, suatu saat apa yang dipendam itu akan meledak?
Bagilah sedihmu untuk saya. Sedikit saja. Nanti saya beri banyak bahagia yang saya punya untukmu. Ambilah jatah sehatku, ceriaku, dan jangan membuat patah hatiku karena melihatmu sulit untuk berbicara, atau tertatih untuk berjalan, atau selalu ingin berbaring karena mudah merasa lelah, atau harus menghabiskan obat - obat dokter disetiap harinya yang entah sampai kapan, atau kesulitan mengunyah makananmu, atau..
Karena Ba adalah orang yang kuat, dan melihatnya kesakitan membuat saya menjadi seorang anak yang paling menyedihkan karena tidak menjaganya dengan baik, memahami perasaannya, memperlakukannya bagai seorang raja.
Sehatlah, Ba...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar