Selasa, 01 September 2015
Sajak Dua September (Masih Sama)
Barangkali, di seratus ribu juta tahun setelahnya ia-lah putri jelita dari kerajaan langit, sesungguhnya.
Di pipinya senja kan beranak pinak, merekah rona, serta merta bertiuplah tudungnya; kadang beras ketan, kadang lautan lepas.
Ia-lah bersembunyi, lalu berkatalah dia:
"Aku lah arang, sebentar lagi serupa debu dan diterbangkannya aku oleh angin"
"Aduhai! tak ada yang mengenali. aku tetap berlari dan bersembunyi"
Palsu.
-Nisa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Oktober 2020
Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...
-
dear ILONA ESTHERINA CHRISTINE PIRI, di kosannya yang hanya berjarak empat rumah dari kosan gue. pasti lo bertanya - tanya kenapa gue...
-
Kamu tau, memperjuangkan sebuah gelar di akhir perkuliahan ternyata lebih susah dibanding memperjuangkan hatinya Tan, dulu. Susah. Dan ribe...
-
Renjana, Aku terlambat. Barangkali, mentari di dadaku lupa ingatan, buru - buru kuseduh milo dengan secangkir gerimis tanpa perasa. Hamb...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar