Senin, 29 Februari 2016

COLLOPORTUS!


Mari bertaruh siapa yang paling sakit, percaya saja, kamu akan kalah!
seperih ini ternyata rasanya. Kamu hanya tahu sebagian kecil perihnya, mari bertaruh, aku bersumpah, kamu pasti kalah!

Colloportus!

Untuk Aku.


Februari segera berakhir. Seperti yang kukira, tak ada lagi hiasan lampu kerlap kerlip di dalam matanya.

Semakin redup.

Sebentar lagi cahaya mati,
lalu gelap.

Dalam gelap, aku meraba - raba bayangannya walau ku tahu takan kutemui apa - apa disana.
Gelap berwarna pekat.
Kau tahu begitulah rupa bayangan, bukan?

Tak kutemui apa - apa lagi pada bola matanya.

Awas, hati - hati.. sebentar lagi kaca - kaca tercipta di mataku.

Ah.. sial!
Mereka banyak!

Minggu, 21 Februari 2016

Untuk Vina.


Vina temanku di Semarang,

Apakabar?
senang sekali aku baca suratmu, mereka manis. Ah, kamu semakin mahir saja menyulam kata. Maaf baru kubalas suratmu di hari ke 23. Bukannya aku sok sibuk, tapi belakangan ya.. seperti yang kamu tau, aku memang sedikit sibuk mengurus urusanku di Kampus. He he.

Tahun ini aku jarang berkirim surat, selain (agak) sibuk, aku juga susah menulis bahagia, Vin. Entah kenapa aku lebih produktif saat hatiku sedang kacau. Aku pernah baca dimana sebuah quote yang berbunyi "lahirkan dari rasa sakit paling memilukan karena anak tercantik dari seni adalah depresi". Ku rasa itu berlaku untukku. Perihal Renjana, suratku yang katamu kau suka itu... setelah kubaca lagi, aku jadi berpikir; segamang itu ternyata aku dulu. wkwkw

Vina temanku yang cantik,
semoga bahagia selalu dengan Galih. Aku ikuti cerita kalian lewat surat - suratmu yang selalu kamu kirim untuk kekasihmu itu, romantis Vin, Galih mesti jadi laki - laki paling beruntung dicintai kamu.
Aku boleh sombong ya? aku juga sedang bahagia, Vina, sepertimu. he he Semoga berlangsung lama, kamu tentu tahu bukan 'bahagia' yang ku maksudkan ini siapa :)

Setahun lalu, kita adalah dua orang asing. Siapa sangka sekarang kamu adalah salah satu orang yang tahu banyak tentang kehidupanku. Aku bersyukur untuk itu dan untuk setiap hal - hal baik yang terjadi dihidupku; ya bertemu dengan orang sepertimu, salah satunya. Kamu banyak membaca keluhanku saat aku galau, kamu tau ceritanya karena aku bagi, tidak jarang kamu juga kasih masukan. Terimakasih.

Walaupun tidak semanis suratmu, tapi, semoga kamu senang membaca surat balasanku.

Hei, apakabar kangpos yang waktu itu ya? Ha ha ha

Temanmu di Manado,
Nisa

Surat Pendek.


Tuhan, ini surat yang amat pendek dari aku si anak perempuan yang suka mengeluh.

Sepanjang hidup yang Kau beri ini tak jarang aku menangis, tak jarang aku kecewa dengan takdirMu, kadang aku diam-diam mengumpat segala hal buruk yang terjadi dalam hidupku,
Namun,
Terlepas dari itu semua, aku tahu Kau Maha Baik. Segala apapun yang Kau rencanakan untukku adalah takdir baik.

Tuhan Yang Baik,
Walau aku sering mengeluh.. tapi terima kasih, hidupku asik.

Aku bersyukur untuk itu..

Tuhan, sependek ini saja suratku. Selebihnya, mari bertemu dalam doa.

Senin, 15 Februari 2016

Untuk Tan


Diatas.
Kita sedang berada pada jarak
yang sangat
dekat.
Kaki tinggal melangkah hanya dengan
beberapa hitungan saja lalu sampai
ditempatmu.
Tapi kamu dimana?
Tidak kasat mata.
Atau minus dimataku bertambah?
atau
bukan giliranmu saat ini?
Jadi, kapan waktu akan berbaik hati
mempertemukan
kita, lagi?

Tertanda,
Anak perempuan yang pernah kamu panggil Nuy

Jumat, 12 Februari 2016

Dilan.


Kepada, Dilan.


Dilan,
Aku tau di hatimu cuma ada Milea, maaf aku ga peduli, aku tetap pengen nulis surat buat kamu.

Dilan,
mungkin lebih cocok ku panggil Om Dilan kali, ya? karena jika kamu adalah nyata (katanya sih kamu nyata), kamu tentu jauh lebih berumur diatasku. Bayangkan saja, kamu SMA di tahun 90. Itu aku belum lahir tuh, direncanakan saja belum kayanya, nanti 4 tahun setelah itu baru aku ada.

Dilan,
kamu tahu gak, kamu itu jadi idola semua anak perempuan (yang baca kisah kamu) termasuk aku. Kamu pacarable banget; cool, penyayang, perhatian, lucu, romantis dengan cara kamu. Aduh Dilan.. melting aku dibuatmu.

Milea sungguh perempuan yang beruntung bisa pernah jadi kekasih kamu, harusnya kalian menikah saja diakhirnya.
Tapi ternyata Milea menikah sama Mas Herdi. Kamu, kamu dengan siapa, Dilan?

Dilan,
Terimakasih sudah jadi bacaan yang menyenangkan, membuat aku melayang - layang membayangkan, kisahmu bikin aku senyamsenyum sendiri diawal pertama, lalu aku tenggelam dan ikut nyesek di endingnya. Aku bahkan nangis, iya ini lebay, Dilan, tapi ngebayangin gimana jadi Milea yang diam - diam memendam rindu untuk kamu itu.... ah, Ayah PidiBaiq emang jago ngerangkai kata..

Dilan, segini aja suratku. Aku mau beol soalnya.
Udah ya, Dilan, dadah!

(Ini dari Nisa, Dilan, bukan Milea :)

Selasa, 09 Februari 2016

Untuk Ma dan Ba


Dear Mama dan Baba, di Rumah.

Anakmu, Ma, Ba, hari ini sesuai janji, dia telah lulus. Namanya sebentar lagi akan ada tambahan di belakangnya. Ma dan Ba pasti tidak menyangka :)

Terimakasih untuk doa - doa tulus yang tidak pernah berhenti mengalir untuknya, terimakasih untuk semangatnya disetiap waktu.
Terimakasih untuk kepercayaannya. Dia tahu, barangkali ada sedikit rasa kecewa karena lulus sedikit terlambat dari waktu yang seharusnya, tapi, hari ini mohon lupakan kekecewaan itu. Tersenyum dan banggalah untuknya.

Perjalanannya masih sangat sangat panjang, dan 'membahagiakan' kalian adalah tujuannya yang paling utama, untuk itu.. berjanjilah untuk selalu sehat, ya? hanya itu.

Selalu bahagia dan terus menerus mendoakannya.

Ma, Ba, sudah hampir lama tidak bertemu, rindunya sudah ditabung hampir setinggi gunung, bahkan lebih. Tapi, tunggulah sebentar lagi, ya..

Sebentar saja, sebentar lagi kita akan bertemu.

Anakmu,
di Rantau

Rabu, 03 Februari 2016

Roman Picisan.

Haha untuk melihatmu, aku tidak butuh kacamata, Tan. Segalanya terasa jelas, segalanya begitu nyata walau lampu remang menambah rabun di mataku.
Dan aku tidak pernah salah duga, matamu tetap seperti panda lalu mereka tampak lelah, tidurmu tak teratur? atau bagaimana? memang seperti itu matamu?

Kamu banyak tersenyum malam tadi, Tan. Barangkali kamu sedang bahagia? yang entah aku tak tau untuk apa dan siapa karena apa.

Ini klasik dan menjijikkan tapi sumpah aku ingin waktu berhenti sejenak ketika kamu berada tidak jauh di depanku saat tengah asik melahap mie ceplok yang kamu pesan. Aku tahu, kamu tahu aku memperhatikanmu dari balik punggung temanmu. Akan lebih bagus lagi jika aku tahu, kamu salah tingkah saat itu.

Perasaanku, Tan, jangan tanya bagaimana. Maksudku jika kamu bertanya apa aku bahagia saat bertemu denganmu malam tadi, tidak ragu - ragu akan ku jawab YA. Tapi kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, perasaan seorang anak perempuan kepada seorang lelaki, rasanya sudah menghilang Tan, aku bahkan tidak deg - degan lagi. Aku tidak malu - malu lagi, tidak sembunyi - sembunyi lagi, aku sudah besar, Tan. Aku sudah pandai mengontrol perasaanku. Rasanya tidak sama lagi, tapi kamu akan selalu di hati.

Ku harap kamu pun senang bertemu dan melihat perubahan sikapku yang sudah lebih dewasa saat berada di dekatmu. Aku tahu, setelah ini kamu mungkin lupa pernah bertemu denganku, tapi aku tidak ingin Tan, aku harus menulisnya, mereka harus kuabadikan. Agar dapat ku kenang terus menerus. Saat aku terlalu lelah menghadapi urusan di Kampus akan ku baca lagi surat yang kutulis untukmu, mungkin, mungkin mereka akan membikin hatiku senang lagi. Kupikir aku perlu itu untuk nanti.

Tan yang tidak pernah berubah, iya jangan berubah. Tetap menjadi Tan yang seperti itu saja. Gaya, sikap, begitu - begitu saja. Aku bahkan tidak apa kalau kamu tetap sedingin esbatu saat ada didekatku, atau kamu bahkan enggan menyebut namaku maka kamu tidak pernah menyebutnya, aku tidak apa. Karena kamu yang seperti itulah yang aku suka. Dan usia perasaanku mereka sudah hampir memasuki tahun ke 5. Dan kamu begitu - begitu saja. Jangan pernah jadi ramah.

Sampai bertemu dilain waktu, Tan..

Disaat itu, walau usiaku dan usiamu terus bertambah, pelan - pelan aku juga akan tumbuh menjadi wanita dewasa dan bertemu banyak orang baru nantinya, mencintainya, ku pastikan aku akan terus menyukaimu. Sebatas menyukaimu.

Karena mungkin, takdirku di kehidupanmu selamanya hanya akan sebatas itu..

Semoga mereka mengerti.

Nisa.

Selasa, 02 Februari 2016

Sajak Rindu.


Perempuan ini sayang, ia terbiasa memendam rindu, namun sejak bersamamu ia belajar untuk selalu mengungkapkannya tanpa harus malu - malu.

"Aku rindu..."

"Setiap waktu..."

Kekasihmu,
Nisa

Senin, 01 Februari 2016

Surat Kedua.


Tepat setahun semenjak hatiku patah karenamu.
Mungkin kamu tidak berniat untuk mematahkannya, sebab aku tahu kamu anak laki - laki yang baik.
Tapi, kalau boleh jujur, patah hati tahun lalu adalah patah hati terburukku. Aku tentu pernah mengalami patah hati sebelumnya, namun patah hati model itu.. baru ku alami saat jatuh bersamamu.

Katamu, kamu tidak bisa meninggalkan kekasihmu, tapi kamu memintaku untuk terus bersamamu. Kamu bilang kamu menyayangiku, tapi selalu kamu habiskan hari dengan kekasihmu.
Lalu, kamu bilang, andai aku bisa sedikit lebih bersabar.
Bersabar?

Tahun ini segalanya habis tak berbekas. Waktu.. menyembuhkan patah hatiku karenamu. Waktu membuat hatiku belajar untuk mencoba berdamai dengan hatimu.
Bukan untuk kembali, tapi, barangkali karena sekarang aku sudah berhasil menjadi perempuan dewasa, berkatmu.

Aku tidak lagi mengutukmu, mengumpatmu,
aku mendoakanmu. Mendoakan kita; kamu bahagia dengan kekasihmu, dan aku berbahagia dengan kekasihku.

Salam Rindu,
Nisa

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...