Jumat, 12 Februari 2016
Dilan.
Kepada, Dilan.
Dilan,
Aku tau di hatimu cuma ada Milea, maaf aku ga peduli, aku tetap pengen nulis surat buat kamu.
Dilan,
mungkin lebih cocok ku panggil Om Dilan kali, ya? karena jika kamu adalah nyata (katanya sih kamu nyata), kamu tentu jauh lebih berumur diatasku. Bayangkan saja, kamu SMA di tahun 90. Itu aku belum lahir tuh, direncanakan saja belum kayanya, nanti 4 tahun setelah itu baru aku ada.
Dilan,
kamu tahu gak, kamu itu jadi idola semua anak perempuan (yang baca kisah kamu) termasuk aku. Kamu pacarable banget; cool, penyayang, perhatian, lucu, romantis dengan cara kamu. Aduh Dilan.. melting aku dibuatmu.
Milea sungguh perempuan yang beruntung bisa pernah jadi kekasih kamu, harusnya kalian menikah saja diakhirnya.
Tapi ternyata Milea menikah sama Mas Herdi. Kamu, kamu dengan siapa, Dilan?
Dilan,
Terimakasih sudah jadi bacaan yang menyenangkan, membuat aku melayang - layang membayangkan, kisahmu bikin aku senyamsenyum sendiri diawal pertama, lalu aku tenggelam dan ikut nyesek di endingnya. Aku bahkan nangis, iya ini lebay, Dilan, tapi ngebayangin gimana jadi Milea yang diam - diam memendam rindu untuk kamu itu.... ah, Ayah PidiBaiq emang jago ngerangkai kata..
Dilan, segini aja suratku. Aku mau beol soalnya.
Udah ya, Dilan, dadah!
(Ini dari Nisa, Dilan, bukan Milea :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Oktober 2020
Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...
-
ada sebuah buku, minta dibaca. bersampul abu - abu, atau hitam, atau marun, atau ungu? mataku cacat, entahlah. pemiliknya turunan adam, asli...
-
Selamat bulan maret Selamat tanggal sepuluh Selamat memasuki usia duapuluhlima Kamu.. Selamat ulang tahun Semoga bahagia selalu....
-
Karena kamu kegeeran sendirian, Nis! Karena dia tidak.

gue udah baca nih yg pertama sama yang kedua. sialan hampir mirip kaya kisah gue sama pras dan akbar. kampret hahah
BalasHapus