Minggu, 21 Februari 2016

Untuk Vina.


Vina temanku di Semarang,

Apakabar?
senang sekali aku baca suratmu, mereka manis. Ah, kamu semakin mahir saja menyulam kata. Maaf baru kubalas suratmu di hari ke 23. Bukannya aku sok sibuk, tapi belakangan ya.. seperti yang kamu tau, aku memang sedikit sibuk mengurus urusanku di Kampus. He he.

Tahun ini aku jarang berkirim surat, selain (agak) sibuk, aku juga susah menulis bahagia, Vin. Entah kenapa aku lebih produktif saat hatiku sedang kacau. Aku pernah baca dimana sebuah quote yang berbunyi "lahirkan dari rasa sakit paling memilukan karena anak tercantik dari seni adalah depresi". Ku rasa itu berlaku untukku. Perihal Renjana, suratku yang katamu kau suka itu... setelah kubaca lagi, aku jadi berpikir; segamang itu ternyata aku dulu. wkwkw

Vina temanku yang cantik,
semoga bahagia selalu dengan Galih. Aku ikuti cerita kalian lewat surat - suratmu yang selalu kamu kirim untuk kekasihmu itu, romantis Vin, Galih mesti jadi laki - laki paling beruntung dicintai kamu.
Aku boleh sombong ya? aku juga sedang bahagia, Vina, sepertimu. he he Semoga berlangsung lama, kamu tentu tahu bukan 'bahagia' yang ku maksudkan ini siapa :)

Setahun lalu, kita adalah dua orang asing. Siapa sangka sekarang kamu adalah salah satu orang yang tahu banyak tentang kehidupanku. Aku bersyukur untuk itu dan untuk setiap hal - hal baik yang terjadi dihidupku; ya bertemu dengan orang sepertimu, salah satunya. Kamu banyak membaca keluhanku saat aku galau, kamu tau ceritanya karena aku bagi, tidak jarang kamu juga kasih masukan. Terimakasih.

Walaupun tidak semanis suratmu, tapi, semoga kamu senang membaca surat balasanku.

Hei, apakabar kangpos yang waktu itu ya? Ha ha ha

Temanmu di Manado,
Nisa

1 komentar:

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...