Senin, 01 Februari 2016

Surat Kedua.


Tepat setahun semenjak hatiku patah karenamu.
Mungkin kamu tidak berniat untuk mematahkannya, sebab aku tahu kamu anak laki - laki yang baik.
Tapi, kalau boleh jujur, patah hati tahun lalu adalah patah hati terburukku. Aku tentu pernah mengalami patah hati sebelumnya, namun patah hati model itu.. baru ku alami saat jatuh bersamamu.

Katamu, kamu tidak bisa meninggalkan kekasihmu, tapi kamu memintaku untuk terus bersamamu. Kamu bilang kamu menyayangiku, tapi selalu kamu habiskan hari dengan kekasihmu.
Lalu, kamu bilang, andai aku bisa sedikit lebih bersabar.
Bersabar?

Tahun ini segalanya habis tak berbekas. Waktu.. menyembuhkan patah hatiku karenamu. Waktu membuat hatiku belajar untuk mencoba berdamai dengan hatimu.
Bukan untuk kembali, tapi, barangkali karena sekarang aku sudah berhasil menjadi perempuan dewasa, berkatmu.

Aku tidak lagi mengutukmu, mengumpatmu,
aku mendoakanmu. Mendoakan kita; kamu bahagia dengan kekasihmu, dan aku berbahagia dengan kekasihku.

Salam Rindu,
Nisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...