Minggu, 01 Februari 2015

Day 4: Renjana.


Renjana,

Aku terlambat. Barangkali, mentari di dadaku lupa ingatan, buru  - buru kuseduh milo dengan secangkir gerimis tanpa perasa. Hambar? ya, seperti pada kenanganmu. Kau asik mengeja rindu tanpa jeda dipeluk senja, sedang aku meramunya dengan racun yang kulahirkan dari genangan yang paling luka. Membusuk. Lalu kudatangkan Tuhan menghirup milo, Ia menggerutu "sebegitu satirkah hidupmu, sayang?" dan berlalu, membuatku menimang - nimang sepi juga tanya.

Sunyi.

      Sunyi.

Waktu masih merokok dalam - dalam, renjana, dan ku hisap keringat dibalik tudung berwarna langit. Memudar. berawan. Hujan dimata, ku sulam menjadi banjir yang kan menarikmu kedasar yang paling suram. Pekat. tenggelam kau dan rasakanlah. Sebab hidup tak melulu soal gembira yang dibungkus dengan soda.

Merapal namamu berpuluh juta kalipun sekat sekat. Februari kelabu, tak lagi merah jambu sebab kaktus terlanjur tumbuh didadaku, kupupuk dengan nanah yang kian membiru.

Biru.

     Biru.


Pada akhirnya, rasa perlahan menjadi mati.

Renjana..

Manado, 02 Februari 2015

3 komentar:

Oktober 2020

 Aku membaca lagi perasaanku di tahun - tahun kemarin. Lucu, geli, manis, pahit, macam - macam rasanya. Aku tidak begitu lagi sekarang, tapi...