Manado, 04 Februari 2015
Untukmu..
Aku menyebutnya Tuan Payung. Ia memayungiku sebab hujan ini mengguyur terlalu deras. Walaupun ia datang sesaat setelah hampir seluruh pakaianku basah kuyup, tapi setidaknya ia berdiri disini, sekarang. Dengan payungnya. Membuatku tidak terlihat semakin kedinginan dan menyedihkan.
Entah dengan cara apa ia datang, entah seorang dewa atau malaikat, yang ku tahu semesta begitu baik mempertemukanku dengannya.
Bersamanya, aku tidak takut lagi melewati hari - hariku yang kian tak menentu cuacanya. Saat hari sedang hujan, saat mentari bersinar terlalu terik, ia selalu ada siap sedia dengan payungnya.
Tuan Payung membuatku lupa dengan segala yang menyakitkanku, luka panjang yang ku tanggung sendiri minta dibagi. Aku tak kesepian lagi, Tuan Payung setia menemani.
Sampai suatu hari Tuan Payung menarikan tarian pemanggil hujan hingga hujan deras kembali menghampiri, tapi Tuan tidak disini. Tuan Payung sibuk menari bersama pelangi didalam hujan yang kian lirih. Aku kehujanan lagi, basah kuyup yang hampir mati. Lalu, untuk apa Tuan menawarkanku payung kalau hanya untuk membiarkanku kehujanan lagi?
*****
Selamat hari hujan, Tuan Payung. Pastikan pelangimu tak kehujanan, sepertiku,
disini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar